[Resensi] A Farewell To Arms
(Sebuah Perpisahan Kepada Peperangan)
Oleh Ernest Hemingway
Judul Buku : A Farewell To Arms
Penulis : Ernest Miller Hemingway
Penerjemah : Citra Puspitaningrum, S.pd
Penerbit : INDOLESTARI
Cetakan 1 : 2017
Bahasa : Indonesia
ISBN : 978-602-6466-34-1
Tebal : 408 halaman
Sinopsis
Henry adalah seorang prajurit yang patuh pada tugas. Dimana dia dibutuhkan, di sana dia ada
untuk memberikan pengobatan. Meskipun dia seorang pemberani, dia paling tidak suka berbicara
mengenai konsep kepahlawanan atau keberanian. Setelah sekian lama di medan perang, dia
bertemu dengan Catherine Barkley, seorang asisten suster dari Inggris yang cantik Jelita.
Catherine, yang baru kehilangan suaminya, jatuh cinta pada Henry, dan begitu sebaliknya.
Dimulailah cerita cinta di antara mereka di medan perang. Suatu hari, Henry kembali ke medan
perang dan berhadapan dengan situasi yang kritis, dan di mana dirinya hamper terbunuh. Dia
berhasil kabur, dan saat itu juga, dia memutuskan untuk meninggalkan angkatan bersenjata
dan mengabdikan hidupnya demi Catherine.
Referensi
Ada banyak hal yang bisa dibahas dalam buku ini, tapi seperti biasa, saya hanya mengambil 3 hal penting, yaitu tragedi, perang, dan cara penulisan Hemingway yang unik.
Yang pertama, mengenai tragedi. Keseluruhan novel ini adalah tragedi dalam bentuk fiksi yang berdasarkan hidup Hemingway selama dia bekerja sebagai relawan dalam Perang Dunia I. Dan saya pikir, buku ini adalah sebuah drama tragedi yang mungkin sudah banyak tenggelam oleh banjir buku-buku “positif” yang menjanjikan hal-hal baik akan terjadi pada anda jika mengikuti resep-resep mujarab berikut dan cerita-cerita teenlit sampahan yang selalu memiliki akhir yang bahagia. Hal ini membuat buku ini layak dibaca dan diresapi.
Dahulu, orang Yunani seperti Aristotle percaya bahwa drama tragedi dapat dipergunakan sebagai sesuatu yang terapeutik, berkhasiat. Berkhasiat dalam hal apa? Dalam hal mengajarkan kerasnya hidup kepada orang-orang yang masih lugu.
Struktur cerita A Farewell to Arms adalah sebagai berikut. Kita memiliki sebuah tokoh yang kemampuan cukup di atas rata-rata, terlihat dari kemampuannya, terutama kemampuan finansial dan pelatihannya sebagai prajurit. Kita juga memiliki sebuah objek romansa si tokoh utama, yaitu Catherine yang cantik jelita. Konflik terjadi ketika Henry bingung harus memilih Catherine atau hidupnya sebagai prajurit. Lalu, di klimaks, Henry memilih Catherine dan memilih meninggalkan kehidupannya sebagai prajurit. Sampai sini, kita berpikir bahwa mereka berdua akan hidup bahagia, seperti yang diajarkan dongeng-dongeng Disney kepada kita.

Comments
Post a Comment